Jalan Terjal Banteng Menuju Tahta Bali Satu

Paket KBS – Ace direkomendasikan oleh DPP PDI Perjuangan maju Pilgub Bali 2018.


jarrakbali.com, Denpasar – Meski PDIP sebagai partai politik peraih suara mayoritas tiap hajatan pemilu dan mendominasi hampir posisi kepala daerah di tingkat kabupaten/kota di Bali. Bukan berarti langkah parpol besutan Megawati Soekarnoputri ini untuk “memerahkan totalkan” Tanah Dewata tanpa halangan dan melalui jalan terjal.

Terbukti, dari sembilan kabupaten/kota di Bali terdapat dua kabupaten yang tidak berhasil dikuasai partai berlambang banteng moncong putih tersebut. Yakni Kabupaten Klungkung dan Karangasem.

Bahkan untuk tingkat provinsi yang dikepalai seorang gubernur, partai yang identik dengan wong cilik ini belum pernah sekalipun pernah menempatkan kadernya sebagai kepala daerah provinsi Bali. Meski pernah berhasil menempatkan seseorang sebagai gubernur, namun mereka semua berasal dari nonkader. Sebutlah Dewa Made Beratha (1998-2008) dan Made Mangku Pastika dari peroide 2008-2013.

Kini jelang hajatan Pilgub Bali 2018, sama halnya pada Pilgub 2013, PDIP kembali mengusung kader sendiri sebagai calon gubernur. Kekalahan pasangan calon yang berasal dari kader sendiri, AAN Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan (PASS) pada Pilgub Bali 2013 menjadi pelajaran berharga bagi PDIP dan Megawati.

Untuk Pilgub yang berlangsung tahun depan itu, PDIP secara resmi pada Sabtu (11/11) di Jakarta, telah merekomendasikan Ketua DPD PDIP Bali Wayan Koster sebagai calon gubernur berpasangan dengan Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati alias Ace (KBS-Ace).

Seakan sejarah kelam Pilgub 2013 bagi PDIP kembali terulang, sejumlah parpol di Bali yang dimotori Partai Golkar dan Demokrat serta NasDem pada Kamis (9/11) di Denpasar, membentuk Koalisi Rakyat Bali (KRB). Mereka bersepakat membentuk koalisi yang seolah ingin mengulang kesuksesan Koalisi Bali Mandara (KBM) pada Pilgub 2013, saat Mengusung Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta (Pasti-Kerta).

Kala itu, PASS yang merupakan pasangan calon dari PDIP dikalahkan dengan perolehan suara tipis, hanya 996 suara oleh Pasti-Kerta yang diusung KBM dengan dimotori Partai Golkar dan Demokrat.

Karena masih menyimpan trauma tersebut, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pun hingga mengeluarkan ancaman terhadap para kadernya, ia tidak akan lagi menginjakkan kaki di Tanah Dewata, bila pasangan calon yang diusung partainya, KBS-Ace mengalami kekalahan.

“Kalau kalah saya nggak mau ke Bali lagi,” ancam Megawati saat berpidato di hadapan para kader PDIP Bali saat pengumuman dan penyerahan rekomendasi pasangan calon PDIP untuk Pilgub Bali 2018 di Kantor DPP PDIP di Jakarta.

Putri Bung Karno ini pula mengaku sempat ciut. Inilah yang menjadi alasan mengapa ia tidak mau tergesa-gesa dan sangat berhati-hati dalam menentukan pilihan sosok yang akan diusung dalan Pilgub Bali 2018. “Saya lihat di koran, partai ini, atau gabung partai ini, mengusung si ini. Saya sudah mulai ciut. Tapi saya selalu meyakinkan diri, ketika menang bukan untuk orang itu sendiri, tapi partai dan masyarakat,” katanya.

Bagi Megawati secara pribadi, Pulau Bali punya arti dan makna tersendiri. Di daerah berjulukan Pulau Seribu Pura inilah eyang putri dari garis ayahnya berasal. Selain itu, kemunculan PDIP tak bisa dilepaskan dari keberhasilan Kongres I tahun 1998 setelah prahara kemelut dualisme yang kala itu masih bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Namun sepertinya keinginan Megawati akan mendapat sandungan dari KRB persis halnya saat KBM mengalahkan PASS pada Pilgub Bali 2013. Sebab dua hari jelang pengumuman rekomendasi PDIP untuk Pilgub Bali, tiba-tiba pada Kamis (9/11) di Denpasar, sembilan partai terdiri dari Golkar, Demokrat, Hanura, NasDem, PPP, PKS, Perindo, PKPI dan PAN membentuk Koalisi Rakyat Bali (KRB) yang siap menghadang langkah PDIP.

Usai pertemuan pembentukan KRB, Ketua DPD Demokrat Bali I Made Mudarta menuturkan, meski sudah sepakat menduetkan Sudikerta dan Rai Mantra, namun di antara parpol belum satu suara untuk memutuskan siapa yang akan diusung sebagai bakal calon gubernur dan calon wakil gubernur. “Nama-nama paket belum kita bahas sama sekali. Kami hanya berkumpul dan bersepakat membentuk koalisi,” kata Mudarta.

Dia membantah koalisi untuk mengeroyok PDIP, tetapi untuk melahirkan pemimpin yang memiliki legitimasi yang kuat.

Di tempat yang sama, Ketua Bapilu Bali Nusra DPP Partai Golkar AA Bagus Adhi Mahendra Putra menegaskan tetap mendukung keputusan yang lahir dari KRB. “Siapa pun calonnya yang lahir kita akan tetap kompak di KRB,” tegasnya.

Bagus Adhi menyebutkan bahwa Golkar yang menggagas koalisi tersebut. Dia membantah KRB lahir jelang rekomendasi PDIP soal bakal calon yang bakal diusung di Pilgub. “Ini menjadi inisiatif Golkar dan kami menjemput bola untuk pertemuan ini. Tapi bukan karena jelang rekomendasi PDIP, karena kami tidak tahu dan tidak berandai-andai. Mereka saja tidak tahu siapa yang direkomendasi,” tukasnya.

Sehari usai pembentukan KRB, Mudarta menyatakan keyakinannya bahwa dua jago yang mereka usung, yakni Ketut Sudikerta dan Ida Bagus Rai Dharma Wijaya Mantra akan unggul pada Pilgub Bali dibanding paslon lainnya. “Rai Mantra dan Sudikerta adalah nama-nama yang diingkan masyarakat Bali sebagai pemimpin. Mereka sangat berpengalaman dan mempunyai visioner untuk menjawab tantangan daerah Bali ke depan yang makin berat,” ujarnya dengan nada optimis, sembari menambahkan soal posisi calon gubernur dan wakil gubernur masih digodok.

Jauh sebelum rekomendasi PDIP berhasil dikantongi Koster, ia kepada awak media selalu menegaskan rasa optimisnya meraih kemenangan di Pilgub yang akan digelar 27 Juni 2018 itu.

Setelah mengantongi rekomendasi resmi dari induk partinya, Koster yang populer disebut KBS (Koster Bali Satu) mengatakan untuk mencapai kemenangan harus dilakukan konsolidasi internal partai. Partai harus solid, mulai dari Pengurus DPD, DPC, PAC, Ranting hingga Anak Ranting.


Penulis : Nyoman Sukadana

Press Rilis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *