“Hidup untuk Berita”

I Wayan Surnantaka usai penutupan Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar PWI Bali bekerjasama Diskominfos Bali di Balai Pengembangan Sumber Daya Provinsi Bali, Denpasar, Rabu (8/11/2017).


TAMAT memikul gelar sarjana teknik, ia malah menjadi seorang wartawan. Bermodal gemar tantangan dan rintangan, ia sukses menjalani kariernya sebagai wartawan, dari wartawan televisi sampai wartawan koran, bahkan kini dipercaya sebagai pimpinan media online di Bali. Siapa dia?

Rambutnya ikal, jalannya agak membungkuk, suaranya keras dan tegas. Itulah kesan pertama ketika bertemu sosok wartawan bernama I Wayan Surnantaka. Pria kelahiran Benoa, 10 Juli 1979 ini, cukup dikenal di kalangan rekan wartawan yang lain. Selain memang ramah dan familiar, pria bertubuh tambun ini dikenal militan dalam menembus sumber berita. Karier jurnalistiknya bisa dikatakan cukup bagus. Motonya: “hidup untuk berita”.

Sebenarnya, sejak kecil, pria yang akrab disapa Surnan ini tak pernah berpikir jadi wartawan. Riwayat pendidikannya dimulai dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) 6 Benoa, melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), selanjutnya belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Denpasar. Sekolah ini bisa dikatakan cukup bergengsi di Denpasar. Bisa dilihat, ia tidak pernah mengikuti jenjang pendidikan yang berhubungan dengan profesinya. Gelar sarjana yang disandang pun tak berhubungan dengan jurnalistik: Sarjana Teknik. Tapi toh saat ini ia sukses menjadi wartawan.

Saat tamat SD menjadi yang terbaik. Awalnya males melanjutkan ke Denpasar. Padahal banyak teman memilih sekolah di Denpasar. Tapi akhirnya saya go Denpasar. Setelah tamat SMA saya kuliah jurusan teknik. Memang tidak pernah kuliah berhubungan dengan jurnalistik, paparnya pelan.

Awalnya, pria hidung mancung ini tak pernah berpikir jadi wartawan. Namun entah mengapa, ia malah memutuskan untuk melamar sebagai reporter di salah satu koran ternama di Bali yakni Bali Post. Tidak menyangka, Surnan malah diterima sebagai reporter di sana tentu dengan perekrutan yang sangat ketat. “Saya tidak jadi wartawan Koran Bali Post, tapi reporter Bali TV,” cetusnya disela-sela Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) di Balai Pengembangan Sumber Daya Provinsi Bali, Denpasar, Rabu (8/11/2017).

Bekerja di Bali TV memang menjadi tantangan tersendiri bagi suami Made Kristina Dewi ini. Apalagi, ia sama sekali tidak punya pengalaman menjadi seorang reporter media elektronik. Namun berkat semangat dan kerja keras yang ia pegang sebagai etos hidup, ia pun mampu menjadi seorang reporter televisi yang namanya cukup moncer di kalangan sejawatnya. Ini adalah keuntungan dari sifat dan karakter Surnan yang suka menghadapi tantangan dan rintangan. Jadi pekerjaan jurnalistik yang penuh tantangan dan rintangan pun seolah vitamin hidup baginya.

Bidang akademik dan kerjaan saya memang berseberangan. Tapi kerja jurnalistik penuh tantangan, saya merasa itu fashion saya, tegas bapak I Gede Wikan Surnan Kanuruhan ini.
Berkat menyukai tantangan, tidak heran jika Surnan mampu bertahan 13 tahun sebagai seorang reporter telivisi. Ini adalah waktu yang tidak pendek untuk seorang reporter. Bisa dikatakan, Surnan memiliki kematangan dalam menjalani profesinya sebagai jurnalis.

Namun sayangnya, akibat dinamika politik khususnya di internal tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk berhenti berkarier sebagai wartawan televisi. Inilah salah satu karakter tegas Surnan: ia berani mengambil keputusan sesuai dengan hati nuraninya. Pada tahun 2015 ia tak tercatat lagi sebagai bagian dari Bali TV dan diterima sebagai wartawan senior di harian lokal Pos Bali. Tiga tahun berkarier di Pos Bali, karier pria tambun ini bisa dikatakan meroket.

Setelah jadi wartawan, ia pun ditugaskan di pos-pos penting seperti politik, ekonomi dan pariwisata. Sampai saat ini, ia dipercaya sebagai Pimpinan Redaksi Pos Bali online. Karier yang menanjak ini tentu tidak given, melainkan berkat usaha dan kerja keras yang ia lakukan. Satu lagi: semua ini karena ia suka tantangan!

Selama ini Surnan punya moto dalam menjalani profesi jurnalistik: hidup untuk berita. Ia bahkan memutuskan untuk menjadi wartawan sampai akhir hayatnya. Saya hidup dari kerja wartawan, matipun atas nama wartawan, tutupnya seraya mengusap wajah.


Penulis : Agung Paramitha

Press Rilis